The Night.

Semalam....Apakah hanya imajinasi?

Selain gelap dan bulan purnama, aku tak ingat apa-apa lagi. Aku mendesah di atas tempat tidur. Mencoba memutarkan mata ke sekeliling ruangan. Jendela besar bergorden cokelat tua. Lemari yang sangat lebar di sudut ruangan. Cat dinding kuning tua dan sudah perlahan mengelupas, dimakan usia dan kelihatan menggelap lembab karena hari masih dini. Namun dari semua hal-hal normal tersebut, tetap saja ada kejanggalan yang salah. Apa?

Aku terbangun dari tempat tidur dengan malasnya. Ini hari minggu, dan sampai sore pun tertidur tak ada yang bisa melarang bukan? Aku melihat beberapa lembar baju kotor yang tercecer berantakan di lantai samping tempat tidur. Aku terpaku sebentar. Ah. Aku ingat semuanya. Malam bukan hanya gelap dan purnama. Malam juga kelam, lebam, bagai rahasia segerlap pualam yang terkubur di bawah lubang tak bertulang. Malam adalah sebagian dari hidupku. Hidup yang mungkin tak akan pernah kulepaskan, tapi mungkin akan kutinggal jika sesuatu sudah membaik lagi.

Cepat. Dan cepat. Aku berkata pada diriku sendiri.

Aku keluar kamar dengan setengah berlari membawa keluar semua barang-barangku yang terletak di ruangan itu. Walau kakiku berlari, kepalaku tetap menghitung setiap langkah dosa yang telah kulanggar dan kujejak. Dan sambil aku menyicip rasa dosa, aku mendengar gerakan kaki berjalan dari kamar mandi yang membuatku berlari lebih cepat lagi.

0 kid shouted:

 

Blog Template by YummyLolly.com